inspirasi desain rumah bali klasik

Inspirasi dan Ide Desain Rumah Bali Klasik Terkini

Desain rumah bali klasik – Selamat datang dalam perjalanan saya hari ini, sebuah eksplorasi mendalam ke dalam salah satu warisan arsitektur paling memukau di dunia: desain rumah Bali klasik. Lebih dari sekadar destinasi liburan yang memikat, Pulau Dewata adalah sebuah kanvas hidup di mana setiap detail kehidupan, termasuk arsitekturnya, memancarkan spiritualitas dan keindahan alam yang tak tertandingi.

Bayangkan diri Anda melangkah ke dalam sebuah hunian yang bukan hanya sekadar bangunan, tetapi sebuah mahakarya yang menceritakan kisah harmoni, kedamaian, dan koneksi mendalam dengan alam semesta.

Tujuan saya adalah membawa Anda lebih dekat dengan jiwa dari desain rumah Bali klasik. Ini bukan sekadar panduan tentang estetika visual semata, melainkan sebuah undangan untuk memahami makna mendalam yang tersembunyi di balik setiap ukiran, setiap tata letak, dan setiap material yang digunakan.

Saya ingin menunjukkan kepada Anda bagaimana nilai-nilai luhur dan kearifan lokal diwujudkan dalam bentuk fisik, menciptakan hunian yang sarat makna dan harmoni, sebuah tempat yang benar-benar terasa seperti rumah, di mana setiap sudutnya memiliki cerita dan tujuan.

Daftar Isi

Filosofi yang Menjiwai: Jantung Desain Rumah Bali Klasik

desain rumah mewah dan villa

Rumah adat Bali, yang sering disebut sebagai “gapura” karena gerbang utamanya yang ikonik, memiliki unsur tradisional serta filosofi yang erat kaitannya dengan adat daerah tersebut. Ini adalah cerminan langsung dari cara hidup masyarakat Bali yang sangat terikat pada tradisi dan spiritualitas.

Desain rumah Bali klasik tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga merupakan simbol kehidupan yang seimbang dan harmonis dengan alam serta roh spiritual.

Tri Hita Karana: Harmoni Semesta dalam Setiap Sudut

Di jantung setiap rumah Bali klasik, bersemayamlah filosofi Tri Hita Karana, sebuah konsep kuno yang menjadi cetak biru kebahagiaan dan keseimbangan hidup. Filosofi ini mengajarkan tiga hubungan harmonis yang harus dijaga: hubungan dengan Tuhan (Parhyangan), dengan sesama manusia (Pawongan), dan dengan alam (Palemahan). Dalam arsitektur Bali, prinsip ini bukan sekadar teori abstrak, melainkan panduan praktis yang membentuk setiap aspek hunian, dari tata letak hingga pemilihan material.

Parhyangan: Hubungan dengan Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi)

Hubungan spiritual ini diwujudkan melalui orientasi bangunan yang sakral dan penempatan area suci. Pura Keluarga, atau yang dikenal sebagai Sanggah atau Pamerajan, adalah jantung spiritual rumah. Bangunan ini selalu diletakkan di sudut timur laut dari rumah hunian, area yang disucikan dan seringkali dibangun dengan lantai yang lebih tinggi. Penempatan ini bukan hanya tentang lokasi geografis, tetapi tentang menciptakan ruang yang memfasilitasi koneksi spiritual yang mendalam.

Ketinggian lantai di bagian timur dianggap sebagai “hulu” atau kepala yang disucikan, memberikan energi positif dan perlindungan dari elemen alam seperti sinar matahari dan air yang berlebihan. Keberadaan Sanggah ini adalah perwujudan nyata dari hubungan manusia dengan Sang Pencipta, dan setiap rumah atau pekarangan di Bali wajib memiliki Sanggah atau Merajan sebagai tempat pemujaan.

Ini menunjukkan bahwa orientasi spiritual secara langsung menentukan letak dan ketinggian bagian paling utama dalam kompleks rumah, membentuk hierarki spasial yang sakral. 

desain rumah mewah dan villa

Simak Juga : Jasa Desain Rumah Murah Jakarta

Pawongan: Hubungan antar Manusia

Rumah Bali dirancang dengan cermat untuk memupuk keharmonisan antar penghuni dan tamu. Ada ruang-ruang khusus yang secara eksplisit mendukung interaksi sosial dan kebersamaan. Bale Dauh, misalnya, berfungsi sebagai tempat khusus untuk menerima tamu dan terkadang juga digunakan sebagai tempat tidur bagi anak remaja laki-laki atau tempat diadakannya pertemuan-pertemuan.

Bale Sekapat, yang mirip dengan gazebo dengan empat tiang, adalah ruang bersantai bagi anggota keluarga, dirancang untuk mempererat keakraban dan hubungan yang harmonis. 

Bahkan Bale Gede, bangunan terbesar dalam kompleks rumah, didedikasikan untuk upacara adat dan pertemuan komunitas besar. Fungsinya yang sakral mengharuskan tempatnya lebih tinggi dari Bale Manten dan ukurannya jauh lebih besar, juga digunakan untuk berkumpul dan menyajikan makanan khas Bali.

Keberadaan berbagai jenis bale ini, masing-masing dengan fungsi sosial yang jelas, menunjukkan bahwa arsitektur Bali secara aktif memfasilitasi dan memperkuat ikatan sosial serta kehidupan bermasyarakat. Ini bukan sekadar tempat berlindung, melainkan sebuah lingkungan yang dirancang untuk memelihara dan merayakan hubungan antarmanusia.

Palemahan: Hubungan dengan Alam

Keselarasan dengan alam adalah ciri khas yang paling menonjol dari desain rumah Bali klasik. Ini terlihat jelas dari penggunaan material alami yang diambil langsung dari lingkungan sekitar, seperti batu gunung, kayu, dan bambu, yang tidak hanya indah secara estetika tetapi juga kuat dan tahan lama. Penerapan material alami ini merupakan perwujudan dari keserasian hubungan antara manusia dan alam, di mana masyarakat Bali secara tradisional menggunakan bahan-bahan lokal yang mudah didapat. 

Desain rumah juga memaksimalkan sirkulasi udara dan pencahayaan alami, seringkali dengan jendela besar atau ruang terbuka antara atap dan dinding. Halaman yang luas dan taman yang asri menjadi bagian tak terpisahkan dari hunian, menciptakan suasana teduh dan menyegarkan. Bahkan pemilihan lahan pun sangat cermat, menghindari area yang dianggap tidak harmonis atau membawa kesialan, seperti tanah yang dilintasi jalan (karang karubuhan) atau yang berbau busuk.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa harmoni dengan alam bukan hanya sebuah pilihan estetika, melainkan prinsip inti yang memandu setiap keputusan desain, dari pemilihan lokasi hingga detail material dan tata letak.

Simak Juga : Desain rumah minimalis unik dan modern

Asta Kosala Kosali: Pedoman Tata Ruang dan Proporsi Ilahi

Selain Tri Hita Karana, rumah adat Bali juga dibangun menurut aturan Asta Kosala Kosali, sebuah pengetahuan arsitektur tradisional Bali yang memiliki makna filosofis yang tinggi. Konsep ini sering diibaratkan seperti feng shui dalam budaya Tiongkok, memberikan pedoman mendetail tentang tata ruang dan proporsi yang harmonis.

Keberadaan Asta Kosala Kosali telah dikenal sejak abad ke-9, dibuktikan oleh Prasasti Bebetin.

Pengukuran Non-Standar: Proporsi Berbasis Manusia

Salah satu aspek paling unik dari Asta Kosala Kosali adalah sistem pengukurannya yang tidak menggunakan satuan internasional, melainkan didasarkan pada ukuran tubuh manusia, khususnya pemilik rumah. Ini memastikan bahwa setiap rumah memiliki proporsi yang sangat personal dan terasa “pas” bagi penghuninya. Beberapa contoh satuan pengukuran ini meliputi:

  • Acengkang/Alengkat: Diukur dari ujung telunjuk sampai ujung ibu jari tangan yang direntangkan.
  • Agemel: Keliling tangan yang dikepalkan.
  • Aguli: Ruas tengah jari telunjuk.
  • Akacing: Pangkal sampai ujung jari kelingking tangan kanan.
  • Alek: Pangkal sampai ujung jari tengah tangan kanan.
  • Amusti: Ujung ibu jari sampai pangkal telapak tangan yang dikepalkan.
  • Atapak batis: Sepanjang telapak kaki.
  • Atapak batis ngandang: Selebar telapak kaki.
  • Atengen Depa Agung: Pangkal lengan sampai ujung jari tangan yang direntangkan.
  • Atengen Depa Alit: Pangkal lengan sampai ujung tangan yang dikepalkan.
  • Auseran: Pangkal ujung jari telunjuk yang ditempatkan pada suatu permukaan.
  • Duang jeriji: Lingkar dua jari (telunjuk dan tengah dirapatkan).
  • Petang jeriji: Lebar empat jari (telunjuk, tengah, manis, kelingking dirapatkan).
  • Sahasta: Siku sampai pangkal telapak tangan yang dikepal.
  • Atampak lima: Selebar telapak tangan yang dibuka dengan jari rapat.

Penggunaan ukuran tubuh ini bukan sekadar metode praktis; ini adalah manifestasi dari pemahaman bahwa rumah harus menjadi perpanjangan harmonis dari diri penghuninya. Dengan demikian, setiap dimensi rumah, dari tinggi tiang hingga panjang ruang, dihitung secara presisi berdasarkan ukuran individu, menciptakan ruang yang terasa sangat personal dan nyaman. Ini adalah penerapan langsung dari prinsip proporsi dan skala dalam Asta Kosala Kosali.

desain rumah mewah dan villa

Simak Juga : Jasa Arsitek Rumah Kediri

Orientasi Kosmologis (Sanga Mandala): Tata Ruang yang Teratur

Asta Kosala Kosali juga mencakup konsep Sanga Mandala, seperangkat aturan pembagian ruang dan zonasi berdasarkan arah mata angin. Ini adalah sistem sembilan zona yang mengatur penempatan setiap bangunan dalam kompleks rumah, memastikan keseimbangan kosmologis dan aliran energi positif.

Misalnya, area utara-timur dianggap sebagai area suci (hulu), tempat Pura Keluarga harus berada. Sebaliknya, sudut selatan-barat dianggap lebih rendah atau nista. 

Penempatan dapur (paon) di arah barat atau barat daya, dihitung dari tempat suci, adalah contoh lain dari orientasi ini, karena area ini dianggap sebagai letak Dewa Api. Sumur atau lumbung padi, yang terkait dengan Dewa Air, sebaiknya diletakkan di sebelah timur atau utara dapur, atau di sebelah kanan pintu gerbang masuk rumah.

Pembagian ruang yang rapi ini, seperti yang juga ditekankan dalam filosofi Tri Angga, adalah penerapan filosofi adat rumah Bali. Setiap zona memiliki makna dan fungsi spesifik, menciptakan tata letak yang terorganisir dan selaras dengan alam semesta. 

Hierarki Tata Nilai (Tri Angga): Kosmos dalam Struktur Bangunan

Konsep Tri Angga adalah hierarki tata nilai yang membagi bangunan menjadi tiga tingkatan: Utama Angga (kepala), Madya Angga (badan), dan Nista Angga (kaki). Pembagian ini mencerminkan struktur kosmos dan diterapkan pada setiap elemen bangunan, dari fondasi hingga atap. 

  • Utama Angga (Kepala): Ini adalah bagian tertinggi dan paling suci dari bangunan, melambangkan kepala manusia atau puncak gunung. Bagian ini diwujudkan dalam bentuk atap. Dulu, atap umumnya terbuat dari alang-alang atau ijuk, namun seiring perkembangan zaman, genteng juga mulai digunakan. Bentuk atap yang miring tajam memungkinkan air hujan tropis cepat mengalir, dan atap yang menjorok keluar memberikan naungan dari panas.  
  • Madya Angga (Badan): Bagian tengah ini melambangkan badan manusia, tempat aktivitas utama berlangsung. Ini terdiri dari dinding, pintu, dan jendela. Dinding umumnya dibuat dari tanah, batu bata, atau batu alam, sementara pintu dan jendela menggunakan material kayu. Bagian ini juga mencakup ruang-ruang fungsional seperti kamar tidur dan ruang keluarga. 
  • Nista Angga (Kaki): Bagian paling bawah ini melambangkan kaki manusia atau fondasi bangunan, yang menghubungkan bangunan dengan bumi. Bagian ini mencakup pondasi dan lantai. Ketinggian lantai (bataran) bervariasi sesuai fungsinya, dihitung dengan perhitungan khusus seperti Candi, Watu, Segara, Gunung, dan Rubuh, dengan jarak antar perhitungan satu kepalan tangan (sedema).  

Penerapan Tri Angga sangat penting pada setiap bangunan, memastikan bahwa Kepala, Badan, dan Kaki harus seimbang. Hierarki ini tidak hanya estetis, tetapi juga fungsional dan spiritual, memastikan bahwa setiap bagian rumah memiliki peran dan makna yang jelas dalam tatanan kosmologis.  

Simak Juga : Rumah minimalis sederhana 1 lantai 2 kamar tidur

Pemilihan Lahan yang Cermat: Pondasi Kesejahteraan

Asta Kosala Kosali juga memberikan panduan ketat mengenai pemilihan lahan untuk membangun rumah. Tanah yang patut dihindari sebagai lokasi perumahan adalah tanah yang dianggap membawa energi negatif atau kesialan. Beberapa contohnya meliputi:

  • Karang Karubuhan: Tanah yang berhadapan langsung dengan jalan (tumbak rurung/jalan).
  • Karang Sandang Lawe: Pintu keluar berpapasan dengan persimpangan jalan.
  • Karang Sulanyapi: Tanah yang dilingkari oleh lorong atau jalan.
  • Karang Buta Kabanda: Tanah yang diapit lorong atau jalan.
  • Karang Teledu Nginyah: Tanah yang berhadapan dengan sungai (tumbak tukad).
  • Karang Gerah: Tanah di hulu Kahyangan.
  • Karang Tenget: Tanah yang angker atau memiliki aura mistis kuat.
  • Karang Buta Salah Wetu: Tanah yang tidak sesuai dengan perhitungan.
  • Karang Boros Wong: Dua pintu masuk berdampingan sama tinggi.
  • Karang Suduk Angga: Tanah yang menusuk.
  • Karang Manyeleking: Tanah yang tidak rata atau miring.
  • Tanah berwarna hitam-legam dan berbau busuk (bengualid): Dianggap paling buruk.   

Pemilihan lahan yang cermat ini adalah bagian integral dari filosofi Palemahan, memastikan bahwa hubungan harmonis dengan alam dimulai bahkan sebelum batu pertama diletakkan. Hal ini menunjukkan bahwa kesejahteraan penghuni sangat bergantung pada keselarasan dengan lingkungan sekitar, baik secara fisik maupun spiritual.

Elemen Arsitektur yang Memukau: Wujud Fisik Filosofi Bali

Rumah 6x9 Tampak Depan dengan Sentuhan Tradisional

Desain rumah Bali klasik adalah perwujudan fisik dari filosofi-filosofi luhur yang telah kita bahas. Setiap elemen memiliki fungsi dan makna tersendiri, membentuk sebuah kompleks hunian yang utuh dan harmonis.

Gerbang dan Pembatas: Sambutan Penuh Makna

Angkul-Angkul: Gerbang Utama yang Berjiwa

Angkul-angkul adalah pintu masuk utama rumah yang menyerupai gapura. Perbedaannya dengan Gapura Candi Bentar, yang merupakan candi sejajar tanpa atap penghubung, adalah Angkul-angkul memiliki atap yang menghubungkan kedua bangunan yang letaknya sejajar. Fungsi utamanya adalah sebagai gerbang masuk ke area halaman rumah. 

Lebih dari sekadar pintu, Angkul-angkul memiliki nilai spiritual yang tinggi. Ia sering dihiasi dengan ukiran yang rumit dan patung-patung penjaga, berfungsi sebagai gerbang spiritual yang menyambut energi positif dan menangkal energi negatif. Keberadaannya memberikan kesan megah dan menjadi ciri khas yang langsung dikenali dari rumah adat Bali.

Aling-Aling: Dinding Penangkal Energi Negatif

Setelah melewati Angkul-angkul, kita akan menemukan Aling-Aling. Bangunan ini berfungsi sebagai pembatas antara Angkul-angkul dengan halaman suci atau pekarangan rumah. Aling-Aling dipercaya memiliki aura positif dan berfungsi menghalangi aura negatif agar tidak masuk ke pekarangan rumah. 

Secara fungsional, Aling-Aling juga dimaksudkan agar apa yang ada di dalam rumah tidak langsung terlihat dari pandangan luar, terutama saat pintu Angkul-angkul terbuka, menjaga privasi penghuni. Dinding pembatas ini, yang disebut penyengker, terkadang juga menggunakan patung sebagai bagian dari Aling-Aling untuk memperkuat fungsi spiritualnya. 

Simak Juga : Rumah dua lantai minimalis modern

Bangunan Utama dan Fungsional: Jantung Kehidupan Komunal

Kompleks rumah Bali klasik terdiri dari berbagai bangunan terpisah, masing-masing dengan fungsi spesifik yang mendukung kehidupan keluarga dan komunitas. 

Pura Keluarga (Sanggah/Pamerajan): Pusat Spiritual Hunian

Seperti yang telah saya sebutkan, Pura Keluarga adalah bangunan suci yang wajib ada di setiap rumah Bali, baik kecil maupun besar. Fungsi utamanya adalah sebagai tempat berdoa dan beribadah bagi keluarga. Letaknya yang selalu di sudut timur laut (kaja kangin) dari rumah hunian menunjukkan posisinya sebagai “hulu” atau area paling suci dalam kompleks.

Sanggah ini adalah perwujudan dari hubungan harmonis manusia dengan Tuhan, dan pembangunannya seringkali melibatkan undagi (arsitek tradisional Bali). Bahan yang digunakan untuk Sanggah umumnya adalah bata gosok dan batu padas untuk dasar, ukiran kayu cendana untuk badan, dan atap ijuk. 

Bale Manten (Bale Daja): Ruang Inti Keluarga

Bale Manten, atau juga dikenal sebagai Bale Daja, adalah bangunan yang dikhususkan untuk kepala keluarga atau anak gadis. Letaknya harus ada di sebelah utara pekarangan. Bentuk ruangannya persegi panjang dengan bale-bale di bagian kiri dan kanannya.

Dalam keluarga Bali, Bale Manten ini diperuntukkan bagi anak gadis sebagai bentuk perhatian, dan juga bisa digunakan untuk pasangan yang baru menikah. Lantai atau batarannya lebih tinggi dari bangunan lain di pekarangan. Ketinggian lantai ini bisa mencapai 1,2 meter, diukur berdasarkan ukuran telapak tangan atau lengkat.

Bale Dauh: Ruang Tamu dan Interaksi Sosial

Bale Dauh adalah ruangan yang khusus digunakan untuk menerima tamu. Selain itu, ruangan ini juga difungsikan sebagai tempat tidur bagi anak remaja laki-laki atau anak lelaki yang tinggal di rumah adat tersebut. Terkadang, Bale Dauh juga digunakan sebagai tempat diadakannya pertemuan-pertemuan. Bentuknya sama dengan Bale Manten, yaitu persegi panjang, namun letaknya berada di bagian dalam ruangan, tidak di sudut.

Posisinya di sisi barat dan lantainya harus lebih rendah dibanding Bale Manten. Ciri khas lainnya, tiang penyangga di Bale Dauh ini jumlahnya bisa berbeda antara satu rumah dengan rumah lainnya, seperti 6 (sakenem), 8 (sakutus/artasari), atau 9 (sakasanga). Konsep pencahayaan dan pengudaraan diutamakan dengan bukaan lebar untuk sirkulasi yang baik.

Bale Sekapat: Gazebo Keluarga untuk Bersantai

Bale Sekapat lebih mirip dengan gazebo dengan empat tiang penyangga. Tempat ini biasanya digunakan sebagai ruang bersantai bagi anggota keluarga. Dengan Bale Sekapat ini, diharapkan setiap anggota keluarga akan lebih akrab satu sama lain dan hubungan antar anggota keluarga terjalin lebih harmonis. Ini adalah ruang komunal yang terbuka, mengundang relaksasi dan kebersamaan. 

Simak Juga : Jasa Desain Rumah di Tabanan Bali

Bale Gede (Bale Dangin): Pusat Upacara dan Pertemuan Komunitas

Bale Gede, atau dikenal juga sebagai Bale Dangin, adalah bangunan yang memiliki bentuk persegi panjang dengan 12 tiang penyangga. Ruangan ini memiliki fungsi yang sangat penting dan sakral sebagai tempat upacara adat. Karena fungsinya yang sakral, tempatnya harus lebih tinggi dari Bale Manten. Bale Gede harus memiliki ukuran yang jauh lebih besar dibanding bangunan lainnya, sebab selain untuk ritual adat, Bale Gede juga dipakai untuk berkumpul dan menyajikan makanan khas Bali, termasuk pula untuk membakar sesaji.

Bale Dangin terletak di sebelah timur pekarangan, dengan tinggi lantai yang lebih rendah dari Bale Daja. Ada berbagai jenis Bale Dangin, mulai dari saka roras (12 tiang), saka sia (9 tiang), dan sakanem (6 tiang), tergantung luas atau sikut karang. 

Paon/Pewaregan (Dapur): Jantung Kuliner Rumah Tangga

Paon, atau Pewaregan, adalah tempat yang memiliki fungsi yang sama dengan dapur, yaitu tempat memasak dan mengolah makanan. Letaknya biasanya di arah barat (barat daya) dari tempat suci, atau di sebelah kiri pintu masuk areal rumah, sesuai dengan konsep lontar Asta Bumi sebagai letak Dewa Api.

Tempat ini terbagi menjadi dua area: ruangan terbuka untuk memasak menggunakan kayu bakar, dan ruangan penyimpanan makanan serta alat-alat dapur. Paon tradisional seringkali memiliki tungku atau “bungut paon” dan “Langgatan” sebagai rak penyimpanan kayu bakar. 

Jineng/Klumpu (Lumbung Padi): Penjaga Ketahanan Pangan

Jineng atau Klumpu adalah bangunan berukuran sedang yang umumnya dipergunakan sebagai gudang atau tempat penyimpanan bahan pokok seperti gabah kering. Ciri khasnya adalah posisinya yang lebih tinggi dan dirancang seperti goa, dengan atap terbuat dari jerami kering. Bangunannya dibuat cukup tinggi agar gabah terhindar dari serangan burung dan jamur yang biasa muncul di tempat lembap.

Bagian bawahnya biasa dipakai untuk menyimpan gabah yang belum sempat dijemur. Jineng biasanya terletak di sebelah tenggara atau dekat dengan paon. Meskipun secara tradisional menggunakan kayu dan jerami, saat ini Jineng lebih banyak dibangun memakai material pasir, semen, dan batu bata, dengan atap genteng. 

Pengijeng Karang: Pelindung Spiritual Rumah

Pengijeng Karang adalah tempat penjaga yang melindungi semua yang berada di dalam pekarangan rumah. Ini adalah elemen spiritual yang menegaskan pentingnya perlindungan dan keselamatan dalam kompleks hunian Bali.

Simak Juga : Jasa Arsitek Rimah di Klungkung

Struktur dan Proporsi: Kekokohan yang Berjiwa

Inspirasi Desain Rumah Kampung Minimalis

Struktur bangunan tradisional Bali sangat sederhana namun kokoh, dengan perhitungan yang matang berdasarkan Asta Kosala Kosali. 

Dasar Ukuran Bangunan (Sikut): Personalisasi Ruang

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ukuran-ukuran dasar yang digunakan dalam arsitektur Bali didasarkan pada ukuran tubuh pemilik rumah, dikenal sebagai “sikut”. Ini berarti setiap rumah Bali memiliki ukuran yang berbeda-beda, disesuaikan secara personal. Penentuan dimensi ini tidak sembarangan, melainkan mengikuti pedoman yang rinci, seperti jumlah ruas jari, tumpukan uang kepeng, jengkal, atau “amusti”. Pendekatan ini memastikan bahwa setiap ruang terasa proporsional dan harmonis bagi penghuninya. 

Tiang (Saka): Tulang Punggung Bangunan

Elemen konstruksi utama dalam bangunan Bali adalah tiang, yang disebut “sesaka”. Penggunaannya disesuaikan dengan kasta, peranan, dan kecenderungan pemakai. Panjang tiang berkisar antara 19 hingga 25 rai, masing-masing dengan “pelebih” atau “pengurip” (penambahan) yang memiliki makna tertentu. Misalnya, panjang tiang 20 rai dengan pengurip “seuseran telunjuk” dianggap “kusumaratih” dan amat baik. 

Proses penentuan tiang juga melibatkan ritual. Goresan menggunakan tiga jari (telunjuk, tengah, manis) dengan kapur bubuk (putih), darah ayam (merah), dan arang (hitam) dilakukan pada saka dan balok lambang dari kiri ke kanan, sebagai personifikasi dewa Tri Murti (Siwa, Brahma, Wisnu). Ini menunjukkan bahwa tiang bukan hanya elemen struktural, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam. 

Balok (Lambang, Pementang): Pengikat Kekuatan

Balok-balok juga merupakan komponen penting dalam struktur. “Lambang” adalah balok belandar yang mengelilingi rangkaian tiang-tiang tepi. Sementara itu, “Pementang” adalah balok tarik yang membentang di tengah-tengah, mengikat jajaran tiang tengah. Kedua jenis balok ini bekerja sama dengan tiang untuk menciptakan kerangka yang kokoh dan stabil.

Kaki Tiang (Suku Bawak): Fondasi yang Bermakna

Ketinggian kaki tiang juga dihitung dengan cermat, menggunakan perhitungan 3 rai ditambah atau dikurangi “pelebih” yang masing-masing memiliki makna berbeda. Misalnya, kaki tiang 2 sirang tanpa pengurip disebut “Sanghyang Jagana,” sementara 3 rai dengan pengurip “useran telunjuk” disebut “Sanghyang Kusumadewi”. Ini menunjukkan bahwa bahkan bagian terendah dari struktur pun sarat dengan simbolisme dan perhitungan yang presisi. 

Rong Dawa (Ruang Panjang): Jarak yang Terukur

Rong adalah jarak terdalam antara satu saka dengan saka lainnya dalam satu bale. Pada bangunan tradisional Bali, terdapat deretan tiang-tiang sebagai konstruksi pokok penyangga atap. Jarak antara tiang ke tiang ini, atau “rong dawa,” tergantung pada posisi tiang, dengan perhitungan yang berbeda antara bagian samping dan depan. Ukuran rong dawa juga memiliki nama dan kegunaan spesifik, seperti “Mantri Asasaran” atau “Dewi Anangkil”.

Iga-iga (Usuk Atap): Penopang Atap yang Berkah

Usuk-usuk pada bangunan tradisional Bali disebut “iga-iga”. Pangkal iga-iga dirangkai dengan “kolong” atau “dedalas” yang merupakan bingkai tepi luar atap, sementara ujung atasnya menyatu dengan puncak atap. Iga-iga juga memiliki nama dan makna yang berbeda tergantung pada fungsinya: “Sri” untuk lumbung, “Werdi” untuk dapur, “Hyang” untuk tempat pemujaan, “Naga” untuk pintu gerbang, “Mas” untuk perumahan/pawongan, dan “Perak” untuk warung. Ini menggambarkan bagaimana setiap elemen, bahkan yang tersembunyi, memiliki tujuan dan simbolisme.  

Bataran (Ketinggian Lantai): Tingkatan yang Fungsional dan Sakral

Ketinggian lantai atau “bataran” suatu rumah Bali memiliki perbedaan sesuai fungsinya, berdasarkan Asta Kosala Kosali. Perhitungannya menggunakan istilah seperti Candi, Watu, Segara, Gunung, dan Rubuh, dengan setiap perhitungan berjarak satu kepalan tangan (sedema). Bale Daja/Gedong/Bale Gede, misalnya, memiliki tinggi lantai atau bataran yang lebih tinggi dari bale maupun bangunan lainnya di pekarangan. Ini bukan hanya tentang estetika, tetapi juga tentang hierarki fungsional dan spiritual dalam kompleks rumah. 

Konstruksi Akit-akitan: Kesenian Sambungan Tanpa Paku

Hubungan elemen-elemen konstruksi pada rumah Bali klasik dikerjakan dengan sistem pasak, baji, dan tali temali (ikatan), tanpa menggunakan paku besi. Sistem ini dikenal sebagai konstruksi “akit-akitan,” yang memungkinkan bangunan mudah dibongkar dan dipasang kembali. Ini adalah bukti kecerdasan arsitektur tradisional yang mengutamakan keberlanjutan dan adaptabilitas, sekaligus menunjukkan kejujuran struktur dan pemakaian material. 

Simak Juga : Jasa desain rumah di Jembrana

Material Alami: Sentuhan Bumi yang Autentik

desain rumah sederhana 3 kamar di kampung mewah

Salah satu ciri khas paling mencolok dari arsitektur Bali klasik adalah penggunaan material alami yang bersumber dari lingkungan setempat. Ini adalah perwujudan nyata dari filosofi Palemahan, di mana keserasian hubungan antara manusia dan alam sangat dijunjung tinggi. 

Batu Alam: Fondasi dan Dinding yang Kokoh

Batu alam adalah material utama yang digunakan untuk pondasi (bebaturan) dan dinding. Pemilihan jenis batu disesuaikan dengan ketersediaan lokal: desa di dekat sungai berbatu basalt akan menggunakan batu basalt, desa di bukit kapur menggunakan batu karang/limestone, dan desa di sekitar lokasi penghasil batu padas akan menggunakan batu padas. Batu lava juga digunakan di desa-desa sekitar gunung berapi.

Bebaturan, sebagai pondasi alas tiang, disusun dari pasangan batu alam atau batu buatan dengan perekat lempung pasir kapur atau pasir semen. Dinding juga bisa menggunakan pasangan batu cetak tanah mentah atau batu bata. Karakteristik utama material ini adalah menampakkan warna asli atau warna alamnya, memberikan kesan autentik dan menyatu dengan lingkungan. 

Kayu: Jiwa dan Budi dalam Struktur

Kayu adalah bahan bangunan utama dalam khasanah arsitektur tradisional Bali. Pemanfaatannya sudah diatur dalam sejumlah pustaka kearsitekturan tradisional Bali. Pemilihan jenis kayu sangat spesifik; misalnya, kayu ketewel untuk perumahan dan kayu jati untuk patih, sementara untuk bangunan parhyangan digunakan kayu cendana dan menengen. 

Filosofi di balik penggunaan kayu sangat mendalam. Menurut Lontar Janantaka dan Lontar Asta Kosali, kata “kayu” berasal dari “ka” (asal) dan “yu” (budi), sehingga kayu bermakna “budimulah yang menentukan atau ngawisesa”. Ada juga konsep “kayu kadurmanggalan” atau kayu tabu yang dipercaya membawa kemalangan, sehingga dihindari penggunaannya. Ini menunjukkan bahwa pemilihan kayu bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga tentang nilai spiritual dan keberuntungan. 

Bambu: Kesederhanaan yang Fungsional

Untuk bangunan yang tergolong sederhana, dinding pembatas ruang seringkali menggunakan “gedeg” atau anyaman bambu atau anyaman daun kelapa. Bambu juga dapat digunakan sebagai elemen pelindung atau gerbang, seperti yang terlihat pada desain kamar mandi tanpa atap yang menggunakan bambu sebagai gerbang pelindungnya. Material ini mencerminkan kesederhanaan, ketersediaan lokal, dan kemampuan beradaptasi dengan iklim tropis.

Atap Tradisional (Raab): Mahkota Alami Bangunan

Penutup atap tradisional, atau “raab,” umumnya terbuat dari bahan-bahan alam. Sebagian besar bangunan tradisional menggunakan raab dari alang-alang, sirap bambu di pegunungan, atau anyaman daun kelapa di pantai. Seiring perkembangan zaman, genteng tanah juga umum digunakan. Material-material ini tidak hanya memberikan estetika khas Bali, tetapi juga berfungsi sebagai isolator alami yang menjaga suhu di dalam rumah tetap sejuk di iklim tropis. 

Bata: Keaslian yang Terpancar

Batu bata, sebagai batu buatan, juga banyak digunakan untuk bebaturan atau dinding tembok. Sama seperti batu alam, bata sering dipasang dalam keadaan telanjang, menampakkan warna aslinya, yang sepadan dengan prinsip “ketelanjangan warna alam”. Ini memberikan tekstur dan warna yang hangat, menambah kesan autentik pada desain rumah Bali klasik.

Simak Juga : Jasa Arsitek Rumah di Gianyar

Ukiran dan Ornamen: Bahasa Visual Budaya Bali

desain rumah mewah dan villa

Rumah adat Bali dihiasi dengan berbagai ukiran yang mencerminkan kehidupan manusia, flora, dan fauna. Seni ukir ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Bali, ditemukan di rumah-rumah, tempat suci, hingga cendera mata.

Motifnya juga dipengaruhi oleh sistem kasta dan faktor ekonomi pemilik rumah. Ukiran ini bukan sekadar dekorasi, melainkan bahasa visual yang sarat makna dan simbolisme. 

Jenis Ukiran dan Hiasan:

  • Keketusan: Motif ini berupa tumbuhan dengan lengkungan bunga dan daun lebar, sering ditempatkan di halaman atau bagian depan rumah. Contohnya termasuk bunga tuwung, wangsa, dan bun-bun. Keketusan memberikan kesan kesuburan dan kehidupan yang melimpah. 
  • Kekarangan: Pahatan ini menggambarkan tumbuhan lebat dengan daun terurai, sering berada di sudut atas bangunan (karang simbar) atau sendi tugek (karang suring). Kekarangan seringkali memiliki bentuk binatang mitologi seperti karang gajah, karang boma, atau karang sae, yang berfungsi sebagai pelindung dan penolak bala.
  • Pepatran: Hiasan bermotif bunga yang mengisi bidang sempit seperti tiang dan blandar. Contohnya adalah patra sari, patra pal, patra sulur, dan patra ganggong. Pepatran memberikan detail keindahan pada elemen struktural yang lebih kecil, memastikan bahwa setiap bagian rumah dihiasi dengan cermat.

gambar teras rumah sederhana di kampung

Bahan Ukiran:

Ukiran Bali umumnya dibuat menggunakan kayu atau batu padas. Ukiran pada batu padas sering digunakan untuk pembangunan tempat suci serta kelengkapan di dalamnya. Beberapa desa di Bali terkenal dengan seni ukirnya, seperti Desa Peken Belayu (untuk ukiran batu padas), Desa Mas di Ubud, Desa Tangep di Mengwi, Desa Marga di Tabanan, dan Desa Guwang di Sukawati. 

Motif Ukiran:

Motif-motif yang sering dijumpai pada ukiran-ukiran Bali meliputi motif alam (flora dan fauna), motif tokoh pewayangan, dan motif dewa-dewi. Dalam perkembangannya, motif ukiran Bali juga mengalami kemajuan hingga memunculkan motif-motif baru, namun tetap mempertahankan esensi dan simbolisme tradisionalnya. 

Simak Juga : Jasa arsitek rumah Bangli

Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, desain rumah Bali klasik tetap memancarkan pesona abadi yang tak lekang oleh waktu. Daya tariknya bukan hanya pada keindahan visualnya, tetapi pada kemampuannya untuk menawarkan sebuah pengalaman hidup yang berbeda. Rumah Bali klasik adalah sebuah oase ketenangan, sebuah tempat di mana kita dapat kembali terhubung dengan akar budaya, spiritualitas, dan alam.

Desain ini secara inheren mendorong gaya hidup yang lebih seimbang dan harmonis. Dengan penekanan pada ruang terbuka, sirkulasi udara alami, dan penggunaan material bumi, rumah Bali klasik menciptakan lingkungan yang sejuk, nyaman, dan ramah lingkungan. Ini adalah jawaban bagi mereka yang mencari hunian yang tidak hanya indah, tetapi juga menyehatkan jiwa dan raga.

Selain itu, setiap elemen dalam rumah Bali klasik memiliki cerita dan makna mendalam. Ini bukan sekadar kumpulan dinding dan atap, melainkan sebuah narasi tentang kearifan lokal, tradisi, dan hubungan manusia dengan alam semesta. Memiliki rumah dengan desain ini berarti memiliki sepotong warisan budaya yang hidup, sebuah investasi bukan hanya dalam properti, tetapi juga dalam nilai-nilai yang abadi.

Simak Juga : Jasa Arsitek Rumah Bali

Wujudkan Impian Rumah Bali Klasik Anda

Dinasti Arsitek Studio

Kita telah menyelami kedalaman filosofi dan keindahan arsitektur desain rumah Bali klasik, dari Tri Hita Karana yang mengajarkan harmoni semesta hingga Asta Kosala Kosali yang memandu setiap proporsi dan tata letak. Saya berharap perjalanan ini telah membuka mata Anda terhadap kekayaan budaya dan spiritual yang terwujud dalam setiap sudut hunian Bali.

Ini bukan sekadar tentang membangun rumah, tetapi tentang menciptakan sebuah ruang hidup yang bernafas, yang menenangkan jiwa, dan yang merayakan koneksi mendalam dengan alam dan tradisi.

desain rumah mewah dan villa

Jika Anda terinspirasi untuk mewujudkan impian memiliki hunian yang memancarkan pesona abadi desain rumah Bali klasik, kami di Dinasti Arsitek siap membantu Anda. Kami memahami setiap detail, setiap filosofi, dan setiap elemen kunci dari arsitektur Bali tradisional.

Tim kami memiliki keahlian dan pengalaman untuk menerjemahkan kearifan lokal ini ke dalam desain yang tidak hanya indah dan autentik, tetapi juga fungsional dan sesuai dengan kebutuhan gaya hidup modern Anda.

Kami percaya bahwa setiap rumah adalah cerminan dari jiwa penghuninya. Dengan pendekatan yang lembut dan penuh perhatian, kami akan berkolaborasi dengan Anda untuk merancang sebuah hunian yang tidak hanya memenuhi standar estetika tertinggi, tetapi juga sarat makna dan harmoni.

Biarkan kami menjadi mitra Anda dalam menciptakan mahakarya arsitektur yang akan menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.

Dinasti Arsitek Studio

Jangan ragu untuk menghubungi Dinasti Arsitek untuk konsultasi awal. Mari kita bersama-sama merancang dan membangun rumah Bali klasik impian Anda, sebuah tempat di mana tradisi bertemu kemewahan, dan setiap hari adalah sebuah perayaan kehidupan yang seimbang dan penuh berkah.

Simak Juga : Jasa arsitek rumah Denpasar

Pertanyaan Umum Seputar Desain Rumah Bali Klasik

Mengingat keunikan dan kedalaman filosofi di baliknya, wajar jika banyak pertanyaan muncul seputar desain rumah Bali klasik. Berikut adalah beberapa pertanyaan umum yang sering saya dengar, beserta penjelasannya:

Apakah rumah Bali klasik harus selalu berukuran besar?

Tidak selalu. Meskipun rumah adat Bali tradisional seringkali memiliki kompleks bangunan yang luas dengan banyak bale terpisah, konsep desain Bali klasik dapat disesuaikan dengan berbagai skala lahan. Filosofi Asta Kosala Kosali, yang menekankan proporsi berdasarkan ukuran tubuh pemilik dan keseimbangan tata ruang, memungkinkan adaptasi pada pekarangan sempit sekalipun.

Yang terpenting adalah esensi filosofi Tri Hita Karana dan Asta Kosala Kosali tetap tercermin dalam penataan ruang, bahkan jika itu berarti mengintegrasikan tempat pemujaan, bangunan perumahan, dan tempat pembuangan dalam skala yang lebih kecil. 

Bisakah desain rumah Bali klasik diterapkan di luar Bali atau di iklim non-tropis?

Tentu saja bisa. Meskipun desain rumah Bali klasik sangat responsif terhadap iklim tropis, elemen-elemen kunci seperti penggunaan material alami, sirkulasi udara yang baik, dan integrasi dengan alam dapat diadaptasi.

Misalnya, atap yang miring tajam untuk curah hujan tinggi atau penggunaan material yang menjaga suhu tetap sejuk dapat disesuaikan dengan kondisi iklim setempat. Intinya adalah menangkap esensi “rasa” dan filosofi Bali, bukan hanya meniru bentuknya secara mentah. Jendela besar dan konsep open plan yang umum pada arsitektur Bali modern juga membantu sirkulasi udara yang baik. 

Apakah material alami pada rumah Bali klasik sulit perawatannya?

Material alami seperti kayu, batu alam, dan atap ijuk memang memerlukan perawatan khusus dibandingkan material modern. Kayu, misalnya, perlu dilindungi dari hama dan kelembapan, sementara ijuk mungkin perlu diganti secara berkala.

Namun, perawatan ini adalah bagian dari menjaga keaslian dan keindahan alami rumah. Banyak teknik perawatan tradisional yang telah terbukti efektif selama berabad-abad, dan kini juga tersedia produk modern yang membantu memperpanjang usia material alami tanpa menghilangkan karakternya.

Apakah membangun atau merenovasi rumah dengan desain Bali klasik mahal?

Biaya pembangunan rumah Bali klasik bisa bervariasi. Penggunaan material alami lokal sebenarnya dapat menekan biaya jika sumbernya mudah didapat. Namun, ukiran tangan yang rumit dan keahlian undagi (arsitek tradisional) yang spesifik bisa menjadi investasi yang signifikan.

Penting untuk diingat bahwa material bangunan tradisional Bali juga dipengaruhi oleh strata sosial pemiliknya. Untuk golongan bangsawan, misalnya, sering menggunakan tumpukan bata yang lebih banyak. Jadi, kemewahan dan detail bisa disesuaikan dengan anggaran, tanpa mengurangi esensi filosofisnya. 

Bagaimana dengan sirkulasi udara dan pencahayaan alami di rumah Bali klasik?

Sirkulasi udara dan pencahayaan alami adalah prioritas utama dalam desain rumah Bali klasik. Bangunan tradisional Bali dirancang untuk merespons kondisi lingkungan tropis yang panas dan lembap. Ini dicapai melalui penggunaan jendela besar atau ruang terbuka antara atap dan dinding bangunan untuk sirkulasi udara yang optimal.

Konsep open plan dan halaman yang luas juga berkontribusi pada suasana teduh dan menyegarkan. Bahkan kamar mandi seringkali dirancang tanpa atap dengan bambu sebagai pelindung untuk penghawaan yang baik. 

Apakah semua rumah Bali punya Pura Keluarga (Sanggah)?

Ya, keberadaan Pura Keluarga atau Sanggah adalah wajib bagi hampir seluruh masyarakat Bali yang memeluk agama Hindu, tanpa memandang ukuran rumah. Ini adalah perwujudan dari filosofi Parhyangan dalam Tri Hita Karana, yaitu hubungan harmonis dengan Tuhan. Letaknya yang selalu di sudut timur laut (kaja kangin) menunjukkan pentingnya orientasi spiritual ini. 

Apa bedanya Angkul-Angkul dengan Gapura Candi Bentar?

Angkul-angkul dan Gapura Candi Bentar memang mirip karena keduanya berbentuk gerbang. Namun, perbedaan utamanya terletak pada atapnya. Angkul-angkul memiliki atap yang menghubungkan kedua sisi gerbang, berfungsi sebagai pintu masuk utama rumah.

Sementara itu, Gapura Candi Bentar adalah sepasang candi yang terpisah atau sejajar tanpa atap penghubung di bagian atasnya, dan seringkali menjadi ikon khas rumah adat Bali. 

Bagaimana cara menjaga keaslian desain Bali klasik saat renovasi atau pembangunan baru?

Untuk menjaga keaslian, penting untuk memahami dan menerapkan filosofi Tri Hita Karana dan Asta Kosala Kosali. Ini berarti memperhatikan orientasi bangunan, proporsi berdasarkan ukuran tubuh, penggunaan material alami lokal, dan integrasi ukiran tradisional. Melibatkan undagi atau arsitek yang berpengalaman dalam arsitektur tradisional Bali sangat disarankan, karena mereka memahami detail dan makna di balik setiap elemen.

Apakah desain rumah Bali klasik cocok untuk gaya hidup modern?

Desain rumah Bali klasik sangat adaptif. Banyak rumah modern di Bali yang berhasil memadukan ciri khas tradisional dengan sentuhan kontemporer, menciptakan hunian yang fungsional namun tetap sarat makna.

Konsep ruang terbuka, sirkulasi udara alami, dan penggunaan material yang hangat sangat cocok untuk gaya hidup modern yang menghargai kenyamanan dan koneksi dengan alam. Perpaduan ini memungkinkan Anda menikmati keindahan klasik dengan fasilitas dan kenyamanan modern. 


Harga & Biaya Jasa Arsitek Rumah Bangunan

Ingin mewujudkan rumah impian Anda? Nikmati promo diskon 50% dari kami. Promo ini akan berakhir pada

Dinasti Arsitek Studio Logo

Perusahaan jasa arsitek rumah Dinasti Arsitek Studio, Kami melayani jasa desain rumah, jasa desain arsitek rumah dan bangunan, Jasa Desain Ruko serta jasa desain gedung, hotel dan apartemen.

error: Content is protected !!